Skripsi ini membahas mengenai free culture di Indonesia. Andaru Pramudito mencoba menjelaskan mengenai potensi netlabel lokal di era digital. Pilihan, baik dalam musik arus utama maupun skena indie konvensional, telah menjadi suatu yang sulit ditemukan. Untuk memperparah keadaan, para tenaga kerja kreatif baru menemui halangan berupa kurangnya modal finansial untuk memasuki industri tersebut. Sebagai alternatif baru, free culture sepertinya menjadi jawaban bagi para pendatangn baru dalam bidang seni yang mencari ketenaran dengan “membebaskan” karya mereka baik dalam bentuk nilai maupun isi. Free culture yang bertindak sebagai suatu fenomena sosio-politik-kultural yang baru secara perlahan mempenetrasi komunitas musik swadaya, membangun apa yang disebut sebagai netlabel.

Menggunakan studi kasus netlabel Yes No Wave Music yang berbasis di Yogyakarta, skripsi ini mencoba mengeksplorasi alternatif-alternatif metode distribusi musik digital baru yang dapat diterima secara luas oleh masyarakatl sesuai dengan era digital. Menggunakan kekuatan distribusi yang luas yang dimiliki oleh internet, netlabel-netlabel ini telah menjadi sumber alternative kebanalan yang di tawarkan oleh raksasa industri budaya. Menggunakan referensi dari Laughley, Lessig, dan Smiers serta meminjam pemikiran dari Frankfurt School skripsi ini menggabungkan fakta-fakta dari penelitian kualitatif dan wacana mengenai masa depan dari interaksi masyarakat digital sebagai cara pertukaran baru.

Unduh skripsi